Makan Gengsi sampai Kenyang ??
Hai semua..
kali ini aku mau ngebahas mengenai salah satu fenomena media sosial, yaitu
tentang gengsi.
Nah,
sebelumnya kalian udah pernah denger belum tentang gengsi? sebenernya gengsi
itu apa sih? terus gengsi di media sosial itu kayak apa?
Buat kalian yang
penasaran tentang gengsi di media sosial, yuk baca postinganku kali ini!!
selamat membaca :)
Di zaman
yang modern ini pasti tiap orang punya akun media sosial, mulai dari Facebook,
Twitter, Line, Whatsapp, dan juga Instagram. Umumnya media
sosial digunakan untuk media komunikasi antar-individu ataupun
antar-kelompok secara tidak langsung (tanpa tatap bertemu), yang fiturnya pun
beragam, mulai dari chat, telpon, video, berbagi file, bahkan untuk
berbagi keluh kesah (status), dan juga untuk tempat promosi (endorse) atau
berdagang. Media sosial ini tidak hanya diperuntukkan kalangan
artis saja, bahkan orang biasa tanpa status tertentu cukup mudah kita
temukan menggunakan media sosial. Beberapa orang di media sosial gemar
memperlihatkan gaya hidup mereka terutama pada
akun Instagram dan Youtube. Mulai dari memperlihatkan
makanan-makanan mewah, trasnportasi mewah, barang-barang mewah (tas, sepatu,
baju), dan tempat-tempat berlibur yang mewah bahkan ke luar negeri sekalipun.
Hal ini dilakukan oleh mereka untuk mendapat pengakuan dari orang lain
yang melihat unggahannya, seperti mendapatkan jumlah ‘like’ yang
tinggi. Dengan menampilkan apa yang dianggap oleh masyarakat dunia maya sebagai
hal yang menarik dan tidak mengunggah sesuatu yang ia prediksikan tidak akan
mendatangkan ‘like’. Nah, fenomena inilah yang biasa disebut
dengan gengsi di media sosial.
Sebenarnya
gengsi sendiri merupakan keadaan
dimana seseorang merasa mempunyai kebanggaan stersendiri, pada saat
mengkonsumsi barang dan jasa tertentu (Wibowo & Riyadi, 2017). Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), gengsi adalah kehormatan dan
pengaruh; harga diri; martabat, dapat diartikan
bahwa gengsi merupakan perasaan harga diri atau kehormatan yang dimiliki oleh
seseorang dan hal ini dipengaruhi oleh hal yang dilakukannya. Setiap orang
pasti pernah merasa gengsi dalam dirinya, karena mereka memiliki keinginan
untuk diakui oleh orang lain. Namun, gengsi tiap orang tidaklah
sama, hal ini ditentukan dari bagaimana cara pandang individu terhadap sesuatu
dan seberapa besar makna penghargaan itu untuk individu tersebut.
Berdasarkan
riset yang dilakukan oleh Kadence International-Indonesia perihal Share
of Wallet di tahun 2013 menunjukkan bahwa 28% masyarakat kelas
menengah di Indonesia mengalami defisit penghasilan dikarenakan berhutang untuk
konsumerisme pribadi. Survei Kadence juga membagi masyarakat kelas menengah di
Indonesia dalam empat kelompok. Kelompok Deep Pockets adalah mereka yang per bulan menabung
lebih dari Rp2 juta atau 49 persen penghasilan bulanan mereka. Lalu
kelompok Pragmatic, per bulan menabung Rp1 - 2 juta atau
menyisihkan 28 persen penghasilannya. On Edge adalah kelompok
yang per bulan menabung Rp100 ribu hingga Rp1 juta atau rata-rata 10 persen
dari penghasilan bulanannya. Terakhir, kelompok Broke yang
pengeluarannya lebih daripada pendapatannya, sehingga penghasilan defisit 35
persen daripada penghasilannya. (Dhani, 2016)
Salah satu
kasus akibat gengsi di media sosial adalah kasus
yang terjadi pada wanita bernama Lisette Calveiro (26). Sejak ia tinggal di New York Calveiro pun berkeinginan untuk menjadi selebriti sosial media. Hal ini dilakukan Calveiro dengan cara memposting foto-foto yang
menunjukkan foto menarik atau yang biasa disebut instagrammable di akun
instagramnya, ia bahkan membeli pakaian baru, melakukan liburan mewah, dan makan di restoran mahal.
Calveiro sebenarnya berasal dari Miami dan pindah ke New York tahun 2013 untuk
melakukan magangnya, namun ketika di New York, Calveiro terpikat untuk
melakukan kegiatan-kegiatan yang membuat dirinya menarik di sosial media
(Instagram). Dan ini membuatnya sampai memiliki hutang-hutang yang menumpuk,
yaitu hutang kartu kredit sebesar 10 ribu USD (137,4 juta rupiah).
Setelah empat belas bulan bertarung dengan hawa nafsunya, Calveiro pun berhasil mengurangi
hutang-hutangnya. Calveiro memonitor pendapatan dan pengeluarannya dengan seksama dan tidak
melakukan atau membeli barang-barang mewah dengan sering.
Awalnya Calveiro hidup biasa dengan biaya hidup yang sebenarnya tidak
memberatkannya. Namun, ketika Ia pindah ke New York gaya hidupnya pun berubah,
kemungkinan karena ia terpengaruh oleh gaya hidup kelompok-kelompok
disekitarnya. Hal inilah yang memengaruhi Calveiro sehingga merasa gengsi atau
merasa perlu untuk memperoleh pengakuan orang-orang disekitarnya, sehingga ia
melakukan hal-hal yang sebenarnya di luar batas kemampuannya, terutama hal-hal
yang berhubungan dengan materi (biaya). Pada kasus Calveiro ini, hal yang
paling memengaruhinya adalah karena Ia ingin mendapat pengakuan dari
orang-orang terutama followers-nya di Instagram. Ia merasa bahwa
harus memikat followers-nya hingga memberi like, view, atau
pun mengomentari postingannya di Instagram, selain itu Ia ingin menjadi
selebriti sosial media atau yang biasa disebut selebgram.
Berdasarkan survei Kadence International-Indonesia, Kasus yang dialami
Calveiro ini termasuk pada kelompok Broke,
yaitu kelompok yang pengeluarannya melebihi pendapatannya, sehingga penghasilan
defisit 35 persen daripada penghasilannya. Disni diketahui bahwa Calveiro gemar
belanja online dan membeli
barang-barang mewah yang membuatnya terpaksa harus berhutang karena memaksa
membeli barang-barang yang harganya melebihi batas pendapatannya.
Daftar Pustaka
Aulia, R. (2018,
March 6). Perempuan Ini Rela Jatuh Miskin Demi Terlihat Sempurna Di Instagram!
Dipetik April 3, 2019, dari Kapanlagi.com: https://m.kapanlagi.com/plus/perempuan-ini-rela-jatuh-miskin-demi-terlihat-sempurna-di-instagram-e44063.html?utm_source=Perempuan+Ini+Rela+Jatuh+Miskin+Demi+Terlihat+Sempurna+Di+Instagram%21&utm_medium=Line+News+click&utm_campaign=Line+Today+-+News
Dhani, Arman. (2016). Biar Utang yang Penting Gaya. https://tirto.id/biar-utang-yang-penting-gaya-bq8a(diakses pada tanggal 2 April 2019)
Wibowo, A. F., & Riyadi, E. S. (2017). Pengaruh
Gaya Hidup, Prestise, dan Kelompok Referensi Terhadap Keputusan Pembelian
(Studi Pada Konsumen Taiwan Tea House Semarang). Seminar Nasional Riset
Manajemen & Bisnis, 97-113.



Komentar
Posting Komentar